Tak Ada Kesempatan Kedua untuk Pria yang Mengkhianati Kepercayaan

Diposting pada
Loading...

Kata teman-teman aku sudah dalam tahap kritis, ya kritis karena sudah sangat lama berada pada kesendirian, selama tujuh tahun lamanya terakhir aku berpacaran ketika aku duduk di kelas satu SMA. Sebenarnya aku menikmati saja kesendirianku. Aku tidak mau terburu-buru jatuh cinta lagi mengingat terakhir aku berpacaran berakhir dengan tidak baik. Mungkin itu penyebab aku merasakan sedikit malas untuk menjalin hubungan, padahal beberapa ada yang mendekati, namun aku memang menutup diri. Foto cover: Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Semakin lama, memang membosankan melihat banyak teman yang diajak berkencan sedangkan aku hanya santai rebahan, pada saat aku merasa umurku 21 tahun dan aku merasa cukup untuk lebih dewasa dalam menjalin hubungan tidak dengan perasaan yang terlalu berlebihan, aku mencoba untuk membuka hati.

Loading...

Saat itu reuni SMA akan diadakan, salah satu ketua OSIS di angkatan aku mencoba menghubungi teman-teman untuk ikut berpartisipasi dalam reuni, termasuk aku salah satunya. Aku dan dia si ketua OSIS sebenarnya hanya sekadar kenal, tidak dekat pada masa sekolah dulu, hanya sekadar bersapa karena kami dalam satu lingkungan pertemanan yang sama. Aku ingat dia menghubungiku melalui Instagram dengan direct message dan meminta nomor telepon untuk dimasukkan ke dalam grup WhatsApp. Entah apa aku yang terlalu kepedean dia selalu dan semakin lama semakin sering mengirim pesan.

Singkat cerita, kami semakin dekat dan dia menawarkan untuk mengajak aku menonton film, aku mengiyakan. Itu pertama kali kami jalan setelah sebulan dekat. Dia adalah lelaki pertama juga yang aku berani ajak kenalan dengan orangtuaku, tidak seperti sebelum-sebelumnya aku yang masih takut dengan ancaman orangtua yang mana aku harus belajar tidak boleh berpacaran jadi paling aku hanya diantar sampai gerbang rumah. Dia beda, kesan pertama dia sangat sopan aku akui. Yang aku suka dia orang yang suka bercerita padahal kami sudah lama tidak bertemu. Tidak habis obrolan dan aku merasa ada sesuatu di dalam hatiku. Ya, aku merasa aku ingin membuka hati kembali untuknya. Seiring waktu, aku dan dia ya resmi berpacaran, seperti pada umumnya kami nonton, pergi, makan,atau kalau malas pergi kami hanya ngobrol di rumahku. Tidak terasa hampir satu tahun kami berpacaran, tidak pernah ada marahan yang berlebihan.

Singkat cerita, aku mendapat pesan WhatsApp dari teman SMA-ku yang kuliah di Bandung. Sebelumnya aku memang menceritakan hanya kepada beberapa teman saja bahwa aku sedang berpacaran dengan dia. Temanku menulis pesan dengan memaki-maki pacarku, aku binggung, dan aku bertanya kenapa. Lalu temanku menceritakan, bahwa lelaki itu tidak hanya mendekatiku, dia mendekati temanku yang lain sebut saja B. Teman aku ini tahu ketika si B menceritakan bahwa ia sedang dekat dengan pacarku. Posisi saat itu pacarku tahu bahwa aku dan si B berteman dekat, aku hanya terpaku.

Satu fakta lain ternyata teman-temanku kecuali si B sudah tahu bahwa mereka memang dekat tanpa sepengetahuan aku, temanku yang tinggal di Bekasi bahkan memergoki mereka berdua menonton film ketika lebaran, pada saat itu aku sedang pergi ke kampung halaman. Dan respons lelaki itu ketika dipergoki seperti tidak melakukan kesalahan, bahkan ia meminta temanku untuk menutup mulut.

Pada akhirnya aku menghubungi temanku B bahwa aku dan dia telah ditipu, aku memutuskan untuk berbicara bertiga, aku tidak mau ada yang saling tersakiti dengan kejadian ini. Setelah bertemu dia meminta maaf dan mengaku khilaf bahkan memintaku untuk mempertahankan hubungan. Aku dengan prinsipku untuk tidak memberi kesempatan pada lelaki yang tidak bisa menjaga kepercayaan. Aku mencoba ikhlas dengan semua ini dan percaya kepada Sang Maha Kuasa bahwa kelak aku akan mendapat sosok yang benar dan terbaik yang telah ia siapkan.

Sumber: fimela

Loading...