Kisah Anak Tukang Jagung Bakar Jadi Pilot Wanita TNI AD, Disalami Panglima dan Kasad

Diposting pada
Loading...

Penerbang wanita pertama TNI AD, merupakan anak dari tukang jagung bakar asal Kota Medan. Dialah Letda CPN (K) Puspita Ladiba, kini menjabat sebagai Co Pilot TNI AD. Dalam unggahan video channel Youtube resmi TNI AD,wanita yang akrab disapa Diba ini menceritakan perjalanan panjang meraih sukses seperti sekarang. Sejak awal langkahnya di dunia militer, Letda Ladiba telah mengukir banyak prestasi. Hingga mendapat ucapan selamat dari Panglima dan Kasad TNI. Ingin tahu potret anak tukang jagung bakar yang jadi pilot wanita hingga disalami Panglima dan Kasad? Berikut ulasannya.

Letda Ladiba resmi diangkat menjadi pilot wanita TNI AD pertama sejak 2019, setelah dirinya lulus dari Akmil. Wanita asal Medan ini direkrut untuk jadi penerbang.

Loading...

Dia mengaku baru tahu bahwa ada korps penerbang di TNI AD. Ladiba begitu bangga menerima kesempatan jadi penerbang wanita pertama. Kini disusul oleh pilot wanita lain bergabung di korps yang sama.

Potret Ladiba saat melakukan apel bersama WAN TNI 2019 yang dihadiri oleh Kasad Jenderal TNI Andika Perkasa, bersama sang istri tercinta, Diah Erwiany. Di saat yang bersamaan, kedatangan tamu istimewa Panglima Tentara Nasional Indonesia, Marsekal TNI Hadi Tjahjanto.

Penyelenggaraan apel sekaligus menyerahkan penghargaan pada Ladiba, selaku pilot wanita pertama di TNI AD.

Letda Ladiba tergabung dalam Prajurut Terbang wanita atau disebut Srikandi Wira Amur. Belum lama ini, dia merayakan ulang tahunnya ke 25 pada Selasa, 5 Mei.

Wanita kelahiran Borneo ini telah berhasil membalikkan keadaan keluarga. Setelah lulus dari akademi militer, direkrut jadi pilot, dan dilantik saat masih berusia 24 tahun.

Keahlian Letda Ladiba sudah tidak diragukan lagi. Hingga dia kerap menerima tugas terbang sampai wilayah Timur Indonesia. Bertugas di daerah tersebut terhitung sulit, melihat kondisi alam dan fasilitas terbangnya begitu berbeda dengan di Jawa.

“Rasa lelah hilang. Dan sangat sangat bersyukur. Senang bisa membantu memberikan bantuan logistik. Dan tau bagaimana sulit dan susahnya orang-orang hidup di pedalaman papua. Tunggu kak diba balik ya adek akbar dan khalid,” tulis Ladiba dalam caption.

Potret kebahagian Ladiba kerap dibagikannya di laman Instagram. Setiap perjalanan tugasnya ke berbagai kota tak lupa diunggah. Menjadi sosok inspirasi bagi anak muda lain yang memiliki cita-cita sama dengan dirinya.

Ukiran prestasi dan kemampuan yang selalu ditunjukkan Ladiba, membuat banyak amanah baru yang harus diembannya. Dia mengaku, kini jadi memiliki jam terbang ke berbagai kota.

“Terima kasih sir. Kenangan yang tak terlupakan saat ferry flight dari makassar-selayar-labuanbajo-bima-lombok-bali-surabaya-semarang-jakarta. Ya Allah….. Terima Kasih aku diberi kesempatan melihat indahnya Ciptaanmu. Bell 412 EP HA-5180,” tulis Ladiba dalam caption.

Ayah Sopir, Ibu Jual Jagung Bakar

Meski ayah Ladiba seorang sopir rental, Herry Naldi Febri tetap berusaha mencukupi segala kebutuhan sekolah anak-anaknya.

Diba sempat dikira berbohong saat menceritakan pekerjaan ayah, dan ibunya yang berjualan jagung bakar di pinggir jalan.

Banyak yang meragukan seorang anak sopir bisa masuk taruni Akmil. Tapi Diba tak pernah merasa malu, malah bangga atas perjuangan kedua orang tuanya.

Ladiba saat SMA sudah pernah menjadi anggota Paskibraka Kota Medan. Hingga kegigihannya mampu mengantar Diba mewakili Sumatra Utara untuk jadi Paskibraka tingkat nasional di Istana Negara.

Kehidupan Ladiba sejak kecil terhitung di bawah kata sederhana. Masa sekolahnya dilalui dengan kesederhanaan. Sampai suatu ketika di masa SMA, teman-teman telah memiliki handphone selain dirinya.

Tak ingin merepotkan kedua orang tua, Diba berusaha menabung sendiri. Ditambah tugasnya sebagai Paskibraka, ada uang sponsor yang begitu berarti kala itu. Sebagian hasilnya diserahkan pada ayah dan ibu.

Melalui wawancara dengan Tim Humas TNI AD, Diba bercerita tatkala dulu kerap diragukan asal-usulnya. Baik dari teman seangkata, pelatih, hingga petugas kebersihan di Akmil meragukan Diba.

Meski begitu, dia tidak pernah merasa minder dengan latar belakang keluarganya yang begitu sederhana. Diba menganggap santai dan tidak mempermasalahkan pendapat orang lain.

Sudah terhitung dua tahun Ladiba berada di korps penerbang TNI AD. Dia bertanggung jawab dalam mempersiapkan segala hal sebelum terbang, seperti mengecek mesin dan briefing ke rekan satu tim.

Meski begitu, setiap Ladiba ada jadwal libur pasti disempatkan untuk pulang ke Medan. Mengisi waktu luang di rumah, dengan membantu ibundanya mengangkat dan menjual jagung bakar.

Sumber: merdeka

Loading...